NW_24

Long Life Education

15 September 2015

Mars Universitas Gunadarma

Majulah Gunadarma
Majulah Putra Indonesia
Tuntut Ilmu bersemangat Baja
Tuk mengemban tugas mulia
Majulah Gunadarma
Majulah Putra Indonesia
Kibarkan panji-panji cita
Tonggak membangun Negara
Hiduplah Gunadarma
Hidup siswa dan pendidiknya
Mengabdi pada Negara
Bangsa nan Jaya

13 September 2015

Kode Etik PA

Kode Etik PECINTA ALAM INDONESIA
           Kode etik pecinta alam Indonesia dicetuskan dalam kegiatan Gladian Nasional Pecinta Alam IV yang dilaksanakan di Pulau Kahyangan dan Tana Toraja pada bulan Januari 1974. Gladian yang diselenggarakan oleh Badan Kerja sama Club Antarmaja pencinta Alam se-Ujung Pandang ini diikuti oleh 44 perhimpunan pecinta alam se Indonesia.

            Kode etik pecinta alam Indonesia ini, sampai saat ini masih dipergunakan oleh berbagai perkumpulan pecinta alam di seluruh Indonesia.
Bunyi dari kode etik pecinta alam Indonesia adalah sebagai berikut:
Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah
ciptaan Tuhan Yang Maha Esa
Pecinta Alam Indonesia adalah bagian dari masyarakat
Indonesia sadar akan tanggung jawab kepada Tuhan, bangsa, dan
tanah air
Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa pecinta alam adalah sebagian
dari makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah yang Mahakuasa
                                      Sesuai dengan hakekat di atas, kami dengan kesadaran
menyatakan :
  1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam
    sesuai dengan kebutuhannya
  3. Mengabdi kepada bangsa dan tanah air
  4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat
    sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya
  5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam
    sesuai dengan azas pecinta alam
  6. Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan
    pengabdian terhadap Tuhan, bangsa dan tanah air
  7. Selesai
Disyahkan bersama dalam
Gladian Nasional ke-4
Ujung Pandang, 1974
#NICKWREND
#ELMDH 

12 September 2015

Mendaki gunung bukan berarti menaklukan alam, tapi lebih utama adalah ... Maha Pencipta di puncak gunung tidak bisa diucapkan oleh kata – kata. ... Bagi orang awam, kiprah petualang seperti Pendaki Gunung selalu panadi besyukur

'Hidup' Itu Seperti Mendaki Gunung ?? | Lubis Habib

07 September 2015

hai para traveller gunung ....ADA sebuah anggapan bahwa mendaki gunung itu adalah sebuah tindakan yang keren dan gagah. Ada rasa bangga ketika sudah menginjakan kaki di puncaknya. Namun, sadarkah kita bahwa kita yang mengaku pecinta, ataupun penikmat alam, bisa jadi adalah seorang perusak alam?

1. Melakukan kegiatan pendakian massal (non-konservatif)

Mungkin kita sudah tahu tentang sebuah brand perlengkapan outdoor yang melakukan pendakian massal ke gunung Semeru beberapa waktu lalu.
Saya sempat diajak teman karena dalam iklannya pendakian ini dibumbui oleh kata-kata bersih-bersih gunung, tanam pohon, dan konservasi. Kenyataannya? Semeru menjadi tempat sampah dan potensi rusaknya ekosistem makin besar.
Sebelum mengikuti pendakian massal, ada baiknya survey terlebih dahulu. Berapa kapasitas gunung tersebut, berapa jumlah pendaki yang dibolehkan ikut oleh panitia, dan hal yang terkait dengan konservasi lainnya. Jadilah pendaki yang bertanggung jawab, sob!

2. Andil besar mencemari lingkungan

Biarkan mereka tetap pada tempatnya
Biarkan mereka tetap pada tempatnya
Saya pernah naik gunung dengan seorang rekan yang kelihatannya sudah ‘senior’ dalam hal mendaki. Namun, ditengah perjalanan istirahat, saat ia memakan sebuah makanan ringan, dengan ringannya pula ia membuang sampah itu sembarangan.
Itulah potret kebanyakan pendaki yang tidak paham akan konservasi. Apa sulitnya sih membawa sampah di dalam tas?
Di lain waktu, saat saya sedang ingin mengambil air di sebuah mata air, terlihat seorang pendaki yang sedang menikmati ritual B*B di mata air itu! Apa dia tidak berfikir orang akan minum dari sana? Sebegitu sulitkah menggali lubang di tanah? Kucing saja masih bisa lebih pintar!
Banyak juga pendaki-pendaki yang masih saja menggunakan bahan-bahan kimia yang bisa merusak. Jangan heran kalau menemukan bungkus sabun/shampo yang tergeletak dekat di mata air.

3. Bersikap acuh tak acuh dan pasif.

Menganggap tugas konservasi itu adalah tugasnya penjaga Taman Nasional, porter, dan LSM lingkungan adalah bukan hal yang benar.
Padahal pendaki sendirilah yang punya bagian besar dalam menjaga lingkungan. Banyak oknum pendaki juga tidak mengindahkan kearifan lokal yang telah ditetapkan masyarakat setempat. Tertulis ataupun tidak tertulis.
Seringkali mitos-mitos mistis di gunung itu sebetulnya adalah usaha untuk konservasi dari masyarakat. Jangan sampai bilang begini, ” Saya bukan pecinta alam, kok. Cuma penikmat alam. Jadi bukan tugas saya dong untuk konservasi?”
Heran dengan orang yang bangga dengan menuliskan jejaknya di bebatuan ini.
Heran dengan orang yang bangga dengan menuliskan jejaknya di bebatuan ini.

4. Merusak keasrian gunung

Tidak sulit menemui corat-coret vandalisme di bebatuan, batang pohon, bahkan pos pendakian. Mengambil flora & fauna langka seperti bunga edelweiss, bertindak sembrono sehingga mengakibatkan kebakaran hutan. Puntung rokok dan bekas api unggun yang masih menyala, membuka jalur yang tidak seharusnya, membuang tissue basah kotor seenaknya dan masih banyak lagi.

5. Tidak membagikan pengetahuan tentang pendakian konservatif

Tak dipungkiri, mendaki gunung sekarang sudah terkesan menjadi sebuah ‘wisata’.
Apalagi banyak pengaruh dari acara televisi, film, blog, forum dan banyak media lainnya. Membagikan semangat mendaki gunung kepada orang-orang baru tanpa dibarengi semangat konservasi hanya akan menjadikan para pendaki tersebut menjadi generasi pendaki yang cenderung antipati terhadap lingkungan dan hanya mementingkan kesenangan semata.
Sebagian dari kita mungkin pernah melakukan hal atas, secara sengaja maupun tidak sengaja. Yang pernah, tolong jangan diulangi lagi dan mari saling mengingatkan kepada rekan pendaki yang lain. Semoga gunung-gunung Indonesia masih bisa dinikmati anak-cucu kita nantinya. Aammiinn!
Salam lestari!
Ingatlah bahwa masih ada anak cucu kita.
Ingatlah bahwa masih ada anak cucu kita.
#Wiranurmasyah

Pendaki Gunung Sejati



Suatu ketika, ada seorang pendaki gunung yang sedang bersiap-siap melakukan perjalanan. Di punggungnya, ada ransel carrier dan beragam carabiner (pengait) yang tampak bergelantungan. Tak lupa tali-temali yang disusun melingkar di sela-sela bahunya. Pendakian kali ini cukup berat, persiapan yang dilakukan pun lebih lengkap.

Kini, di hadapannya menjulang sebuah gunung yang tinggi. Puncaknya tak terlihat, tertutup salju yang putih. Ada awan berarak-arak disekitarnya, membuat tak seorangpun tahu apa yang tersembunyi didalamnya. Mulailah pendaki muda ini melangkah, menapaki jalan-jalan bersalju yang terbentang di hadapannya. Tongkat berkait yang di sandangnya, tampak menancap setiap kali ia mengayunkan langkah.

Setelah beberapa berjam-jam berjalan, mulailah ia menghadapi dinding yangterjal. Tak mungkin baginya untuk terus melangkah. Dipersiapkannya tali temali dan pengait di punggungnya. Tebing itu terlalu curam, ia harus mendaki dengan tali temali itu. Setelah beberapa kait ditancapkan,tiba-tiba terdengar gemuruh yang datang dari atas. Astaga, ada badai salju yang datang tanpa disangka. Longsoran salju tampak deras menimpa tubuh sang pendaki. Bongkah-bongkah salju yang mengeras, terus berjatuhan disertai deru angin yang membuat tubuhnya terhempas-hempas ke arah dinding.

Badai itu terus berlangsung selama beberapa menit. Namun, untunglah,tali-temali dan pengait telah menyelamatkan tubuhnya dari dinding yang curam itu. Semua perlengkapannya telah lenyap, hanya ada sebilah pisau yang ada di pinggangnya. Kini ia tampak tergantung terbalik di dinding yang terjal itu. Pandangannya kabur, karena semuanya tampak memutih. ia tak tahu dimana ia berada.

Sang pendaki begitu cemas, lalu ia berkomat-kamit, memohon doa kepada Tuhan agar diselamatkan dari bencana ini. Mulutnya terus bergumam, berharap ada pertolongan Tuhan datang padanya.

Suasana hening setelah badai. Di tengah kepanikan itu, tampak terdengar suara dari hati kecilnya yang menyuruhnya melakukan sesuatu.
"Potong tali itu.... potong tali itu.

Terdengar senyap melintasi telinganya. Sang pendaki bingung, apakah ini perintah dari Tuhan? Apakah suara ini adalah pertolongan dari Tuhan? Tapi bagaimana mungkin, memotong tali yang telah menyelamatkannya, sementara dinding ini begitu terjal? Pandanganku terhalang oleh salju ini, bagaimana aku bisa tahu? Banyak sekali pertanyaan dalam dirinya. Lama ia merenungi keputusan ini, dan ia tak mengambil keputusan apa-apa...

Beberapa minggu kemudian, seorang pendaki menemukan ada tubuh yang tergantung terbalik di sebuah dinding terjal.
Tubuh itu tampak membeku,dan tampak telah meninggal karena kedinginan. Sementara itu, batas tubuh itu dengan tanah, hanya berjarak 1 meter saja....


Teman, kita mungkin kita akan berkata, betapa bodohnya pendaki itu, yang tak mau menuruti kata hatinya. Kita mungkin akan menyesalkan tindakan pendaki itu yang tak mau memotong saja tali pengaitnya. Pendaki itu tentu akan bisa selamat dengan membiarkannya terjatuh ke tanah yang hanya berjarak 1 meter. Ia tentu tak harus mati kedinginan karena tali itulah yang justru membuatnya terhalang.

Begitulah, kadang kita berpikir, mengapa Sang Pencipta tampak tak melindungi hamba-Nya? Kita mungkin sering merasa, mengapa ada banyak sekali beban,masalah, hambatan yang kita hadapi dalam mendaki jalan kehidupan ini. Kita sering mendapati ada banyak sekali badai-badai salju yang terus menghantam tubuh kita. Mengapa tak disediakan saja, jalan yang lurus, tanpa perlu menanjak, agar kita terbebas dari semua halangan itu?

Namun teman, cobaan yang diberikan Sang Pencipta buat kita, adalah latihan,adalah ujian, adalah layaknya besi-besi yang ditempa, adalah seperti pisau-pisau yang terus diasah.
Sesungguhnya, di dalam semua ujian, dan latihan itu,ada tersimpan petunjuk-petunjuk, ada tersembunyi tanda-tanda, asal KITA PERCAYA.

Ya, asal kita percaya.

Seberapa besar rasa percaya kita kepada Sang Pencipta, sehingga mampu membuat kita "memotong tali pengait" saat kita tergantung terbalik? Seberapa besar rasa percaya kita kepada Sang Pencipta, hingga kita mau menyerahkan semua yang ada dalam diri kita kepada-Nya?

Karena percaya adanya di dalam hati, maka tanamkan terus hal itu dalam kalbumu. Karena rasa percaya tersimpan dalam hati,maka penuhilah nuranimu dengan kekuatan itu.Percayalah, akan ada petunjuk-petunjuk Sang Pencipta dalam setiap langkah kita menapaki jalan kehidupan ini. Carilah, gali, dan temukan rasa percaya itu dalam hatimu. Sebab, saat kita telah percaya, maka petunjuk itu akan datang dengan tanpa disangka.

Edmund Hillary, seorang Selandia Baru, dan Tenzing Norgay, seorang Sherpa (porter) Nepal, adalah pendaki gunung salju terkuat dan paling berpengalaman dalam Ekspedisi Inggris 1953.


Setelah tim pertama terpaksa kembali, Hillary dan Tenzing, tim cadangan, mencapai puncak pada pukul 11.30 tanggal 29 Mei 1953. Untuk merayakan, Hillary menawarkan jabat tangan adat, tetapi Tenzing memeluk Hillary, dan mereka memukul punggung masing-masing dalam sukacita.
Yang kerap dikutip dalam kata-kata bijak penyemangat adalah, semestinya Tenzing Norgaylah yang berada di depan, Ia bisa saja menjadi yang pertama mencapai puncak Everest. Tapi, yang berambisi untuk menjadi yang pertama, datang dari negeri jauh adalah para tamunya, termasuk Edmund Hillary. Ia mempersilakan Edmund Hillary untuk yang pertama mencapai puncak. Tenzing Norgay membuktikan, bahwa dialah pendaki sejati pertama yang mencapai puncak dengan kerendahan hatinya.
Di Jalur Pendakian
Masih jauh dari salju menyerpih South Summit, anggota 1963 American Mount Everest Expedition melintasi lereng curam yang membuat pusing di dekatnya, Lhotse di ketinggian sekitar 8.000 meter. Didampingi Sherpa Nawang Gombu, Jim Whittaker menjadi orang Amerika pertama yang mencapai puncak sejati pada tanggal 1 Mei yang kini dikenal sebagai jalur South Col Tiga minggu kemudian Willi Unsoeld dan Tom Hornbein naik melalui West Ridge yang menantang.
Dalam persiapan untuk "perang kecil terhadap gunung besar," sebagai pemimpin ekspedisi, Norman G. Dyhrenfurth mengerahkan lebih dari 900 sherpa pada Februari 1963 melintasi satu balok jembatan dalam perjalanan sekitar 277,5 kilometer menuju Gunung Everest. Tercatat 27 ton pasokan di punggung mereka untuk mendukung upaya pertama Amerika pertama mencapai puncak. Banyaknya Sherpa membentuk barisan sejauh sekitar 6 kilometer sepanjang perjalanan.
pendakian everest,sherpa porter,pembawa perbekalan,tenzing norgay,edmund hillaryFoto: Andy Bardon, National Geographic
Di antara Para Raksasa
Pendaki pada jalur utama ke Gunung Everest pada 1979 melintasi Ama Dablam yang cantik, berpuncak di 6.865 meter. Perhentian berikutnya Biara Tengboche, di mana sebagian besar sherpa dan banyak pendaki berhenti untuk mendapat berkat dari lama yang dihormati.
Gembira mencapai 8.850 meter puncak Gunung Everest, pendaki Jerman Hubert Hillmaier melambaikan bendera di udara tipis pada 14 Oktober 1978. Menjadi bagian dari ekspedisi Jerman-Perancis, Hillmaier naik melalui Southeast Ridge dengan sesama Jerman, Sepp Mack dan Hans Engl. Engl melakukan pendakian tanpa tabung oksigen, mengikuti contoh pendaki Italia, Reinhold Messner dan Peter Habeler Austria, yang pertama melakukannya, pada Mei 1978.
Dalam Jejak Mallory
Anggota Altitude Everest Expedition 2007 menyeberangi padang salju berjalur ke sisi utara Gunung Everest. Tujuan mereka adalah untuk menelusuri jalur pendaki Inggris George Mallory, yang menghilang di ketinggian puncak pada 1924 dengan rekannya Sandy Irvine. Conrad Anker, pemimpin ekspedisi 2007, menemukan mayat Mallory di ketinggian sekitar 8.000 meter di Everest pada 1999. Tubuh Irvine belum ditemukan. Pertanyaan apakah Mallory dan Irvine mencapai puncak juga masih merupakan misteri.
pendakian everest,sherpa porter,pembawa perbekalan,tenzing norgay,edmund hillaryFoto: Jimmy Chin, National Geographic
Bahaya Kini Begitu Jelas
Seorang pendaki melintasi jembatan es sempit di Khumbu Icefall pada 2012. Sering digambarkan sebagai salah satu bagian paling berbahaya selama pendakian standar jalur Southeast Ridge. Es runtuh (icefall) adalah pergeseran serakan balok es sebesar rumah yang bergeser di dasar yang runtuh di Khumbu Glacier, tidak jauh dari base camp Everest.
(Peter Miller)