NW_24

Long Life Education

04 April 2016

Filsafat Dasar Negara CINA dan JERMAN



CINA 

Cina memiliki tradisi filsafat yang tua dan indepeden. Lingkungan budaya cina berlainan dengan Eropa, India, dan Arap, mengahsilakan perbedaan gagasan, keyakinan, dan cara pikir kebudayaan lain. Perbedaan-perbedaan itu sekaligus memunculkan perbedaan dalam sifat dan konsep filsafat cina.

Pada awalnya filsafat cina merupakan ajran-ajaran yang diyakini sebagai penuntun hidup individu dan masyarakat. Peran ajaran-ajaran itu dapat disertakan dengan agama. Ajaran-ajaran Confucius, misalnya pada awalnya merupakan petunjuk-petunjuk tentang bagaimana manusia harus berperilaku. Ajaran-ajaran ini diterima sebagai agama, ajaran-ajaran Confucius, misalnya pada awalnya merupakan petunjuk-petunjuk tentang bagimana manusia berperilaku. Ajaran-ajaran ini diterima sebagai suatu kepercayaan, suatu dogma yang diterima kebenaranya. Namun memasuki masa sekarang ajaran itu mulai dipertanyakan, dianalisis, dikembangkan, dan diterapkan pada berbagai bidang kehidupan masyarakat modern dinamika pembahasan ajaran-ajaran itu menjadi semacam lahan pemikiran yang subur. Menjelmalah ajaran-ajaran itu menjadi filsafat, meskipun masih banyak ahli filsafat yang keberatan untukmengolongkan ajaran-ajaran cina menjadi filsafat.

Menurut Olsen 1984 , salah satu konsep dalam filsafat cina yang amat penting dan menonjol Dao yang menjadi dasar; Konfucianisme, Daoisme, dan Chan.

Keterangan tentang terbentuknya alam semesta menurut alam semesta dalam pemikiran Cina terdapat dalam kitap Yi Jing. Kitap ini menunjukan dan menjadi rujukan utama untuk memahami konsep kosmologi. Di dalamnya juga terdapat penjelasan tentang Dao dan kaitanya dengan hukum alam.

Menurut salah satu penafsiran terhadap kitap Yi Jing pada awalnya kehampaan saat belum ada dunia, belum ada apa-apa. Untuk sekian waktu yang ada hanyalah kehampaan serta kekosongan. Ada juga yang menyebutkan masa ini sebagai dunia pikiran. Kehamparan lalu disusul oleh kekacauan. Tiba-tiba menjadi tidak teraturan. Kehampaan berganti dengan kekacauan dengan tingkatan tinggi. Setelah terjadi kekacauan munculah gas yang disusul oleh energi, serta materi Qi. Gas dan materi ini tidak memiliki bentuk yang jelas bergerak secara bebas saling bertabrakan dan menimbulkan keteraturan hukum alam atau azas alam(Li). Hukum ini mengatur materi yang tersebar di alam namun belumlah sempurna dan hanya berupa benda langit secara umum saja. Perubahan (Yi) terjadi untuk menyempurnakan alam pembentukanya benda-benda alam.

Fungsi dari alam semesta mencapai kesempurnaan setelah mencapai atau munculnya Tai ji yang merupakan perpaduan unsur ying dan yang. Perpaduan unsur ini yang menjadikan alam menajdi seimbang dan harmonis. Tai Ji ada dimana saja dalam alam ini. Yin mengandung sifat-sifat ; diam, beku, padat, gelap, betina, dingin, menyerap, lembut. Dan sifat Yan merupakan gerak,cair, terang, jantan, panas, menentang, keras, dan gerak.

Tai Ji memunculkan 5 unsur alam pembentuk dunia dan isinya. Kelima unsur alam itu adalah api, air, tanah, logam, dan kayu. Perbedaan kosentrasi dan serajat lima unsur itu menyebabkan adanya perbedaan pada benda-benda.Derajat dan kosentrasi lima unsur pada manusia berbeda dengan pada hewan atau benda lainya.

Dengan adanya Tai ji yang mengandung Yin-Yang alam semesta dapat mengatur dirinya, pada dasarnya alam semesta dapat mengatur dirinya secara harmoni. Cara kerja alam selalu mengutamakan keharmonian. Jika ada kekacauan, maka penyebabnya adalah manusia karena alam semesta mengandung kebaikan dan harmonisasi

JERMAN

Buku “German Ideology” menawarkan basis filsafat yang unik dari seorang Karl Marx. Di sini, terukir jelas kecenderungan materialisme Marx yang ia ambil dari pengaruh Ludwig Feuerbach. Bahwa manusia adalah makhluk yang berproduksi dan berhubungan sosial, bahwa sejarah adalah sebuah proses manusia berproduksi untuk mempertahankan hidup, dan bahwa realitas yang nampak itu sebenarnya adalah realitas yang terlihat, bukan konstruksi gagasan yang diejawantahkan dari alam pikir manusia ke kehidupan sehari-hari.

Marx mengawalinya dengan kritik tajam terhadap tradisi filsafat Jerman Hegelian yang dinilainya mengalir dari surga ke bumi. Akibatnya, pergulatan hanya terjadi pada alam pikir dan melupakan basis realitas. Feuerbach dan filsafat materialime justru sebaliknya, bertitik pijak dari realitas sosial. Akan tetapi, dalam pembahasannya mengenai sejarah, konsepsi dialektika yang menjamin progresifitas aksi dielaborasi dengan produksi dan hubungan sosial yang materialistik. Ini yang mengerangkai konsepsi berpikir Marx tentang dunia.

Basis material itu yang mendeterminasi adanya hal-hal lain yang sifatnya bergugus dari alam pikir, seperti ideologi, agama, politik, budaya, atau yang lain. Hubungan antara produksi dengan hal-hal tersebut digambarkan dalam hubungan yang deterministik, antara basic dengan superstructure. Dalam struktur masyarakat industrial, problem terjadi pada struktur yang borjuistik. Struktur tersebut dinilai oleh Marx sebagai struktur yang alienatif, atau berdiri di atas penindasan manusia atas manusia yang lain. Kuncinya terdapat pada hak-milik pribadi. Adanya hak-milik kemudian menjadikan manusia yang menguasai faktor produksi –sebagai ruling class— mempekerjakan manusia yang lain dalam spectrum hubungan yang mekanistik. Akibatnya, manusia menjadi terasing dari manusia lain karena kehilangan kesempatan untuk berproduksi secara otonom. Keterasingan (alienasi) inilah yang kemudian melahirkan kaum proletariat –mereka yang tidak memiliki hak-milik dan tertindask oleh struktur yang alienatif tadi.

Ironisnya, negara dan hukum, yang idealnya menjadi alat untuk mengejawantahkan fungsi keadilan— justru didomplengi oleh kepentingan kaum borjuis, karena struktur negara tidak berpihak pada kaum proletar. Hukum dan politik menjadi ilusionis, karena mereka hanya melayani kepentingan kaum borjuis yang menentukan keuangan negara. Semua hal tersebut berakar dari pembagian kerja yang sangat bertumpu pada hak-milik pribadi. Selama hak-milik pribadi tetap mendeterminasi pembagian kerja, hegemoni borjuis akan tetap eksis. Konsekuensinya., kaum proletariat tetap menjadi kelompok tak berpunya.

Oleh karena itu, Marx memperkenalkan komunisme sebagai jalan untuk mengembalikan basis produksi dan hubungan sosial yang humanis sebagai nature manusia. Keterasingan harus dihilangkan karena menyalahi nature. Jalannya, di tengah masyarakat yang borjuistik, adalah revolusi proletariat. Kaum proletar menjadi tumpuan utama karena kondisi yang antagonis dengan majikan-majikan mereka, sehingga dapat meraih kesadaran yang luas untuk perjuangan kelas. Basis kelas sebagai titik tolak revolusi kemudian ditujukan untuk meraih tujuan komunisme, yaitu mengembalikan hakikat manusia yang dirampas oleh proses borjuistik.

Pada buku ini, Marx menggeser basis filsafat Idealisme a la Hegel yang sangat idealistik ke arah realitas sosial. Hal yang menarik, pergeseran ini menyebabkan filsafat Marx tidak dipenuhi oleh abstraksi yang penuh penalaran, tetapi justru pada analisisnya yang kuat pada realitas. Sangat identik Feuerbach. Ini mempengaruhi analisis-analisis Marx pada tulisan-tulisan selanjutnya. Sehingga, Marx menutup dengan sebuah pesan sederhana: hanya revolusi dan perubahan sosial yang mengakar-lah yang akan memandu kita, menemukan masyarakat yang baru
ref : http://noriefwarisman.blogspot.co.id
http://ibnulkhattab.blogspot.co.id/

2 komentar: